Ulama; Garam Kehidupan Masyarakat

Eksistensi ulama yang berfungsi menjaga aqidah dan moral masyarakat muslim, membimbing mereka meraih keselamatan dunia dan akhirat, menyebarkan nilai-nilai agama Islam, dan sebagai tempat mengadu untuk mencari solusi terkait beragam problema kehidupan yang menghimpit mereka, sungguh sangat diperlukan. Dalam Adda’wah Attammah wattadzkirah al ‘Ammah, Al Habib Abdullah Al Haddad mengumpakan para ulama dengan garam yang berfungsi membuat makanan menjadi baik untuk dikonsumsi atau tidak layak konsumsi. Karenanya jika para ulama tidak bisa mengambil peran sebagai garam yang membuat baik kehidupan masyarakat, mustahil masyarakat membentuk dirinya sendiri menjadi masyarakat ideal yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama Islam dalam segala aspek kehidupan mereka.

Para ulama yang tidak memposisikan diri mereka sebagai garam yang membuat makanan menjadi layak konsumsi dikategorikan sebagai ulama su’ (jahat). Mereka laksana wadah kotor yang tatkala diisi dengan makanan yang baik maka wadah itu akan membuat makanan berubah menjijikkan. Sebagian ulama menyatakan bahwa bertambah ilmunya ulama su’ laksana bertambahnya air akar pohon handzol (labu pahit). Semakin segar pohon tersebut maka semakin tinggi rasa pahitnya dan semakin sedikit airnya maka semakin berkurang rasa pahitnya. Demikian pula ulama su’, semakin sedikit ilmunya maka fitnah dan dampak negatif yang timbul dari sepak terjangnya semakin sedikit pula. Semakin banyak ilmunya, semakin besar pula daya rusak yang diakibatkannya.

Oleh karena itu ulama yang bertaqwa kepada Allah dan berupaya melakukan perbaikan dalam kehidupan masyarakat adalah ulama ideal yang memberikan manfaat kepada dirinya sendiri dan masyarakat. Sebaliknya ulama yang tidak memiliki ketaqwaan kepada Allah adalah ulama buruk yang membinasakan dirinya sendiri dan masyarakat. Allah sendiri dalam Al Qur’an menyerupakan ulama su’  dengan keledai dan anjing sebagaimana terdapat dalam surat Al Jumu’ah : 5 yang artinya, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. …” dan Al A’raf 175-176 yang artinya, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan  (derajat)nya dengan ayat-ayat tersebut, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya di mengulurkan lidahnya (juga)……”

Sejatinya para ulama adalah pewaris para nabi sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam salah satu hadits beliau. Merekalah yang bertanggung jawab meneruskan tongkat estafet  perjuangan dari para nabi dalam mempertahankan dan menyebarkan ajaran Allah SWT. Karena itu mereka dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya serta mentransfernya kepada masyarakat semata-mata karena mengharap ridho Allah dan kebahagaiaan kehidupan akhirat, tanpa sedikitpun memiliki pamrih duniawi. Para ulama seperti inilah yang akan mendapatkan posisi tinggi di sisi Allah SWT dan akan meraih keberuntungan dengan masuk surga.

Berbeda dengan para ulama yang mengejar ilmu demi titel akademik, mahir berdiskusi, memperoleh akses untuk merengkuh kepuasan dan jabatan duniawi, mendapat tempat di masyarakat dan sebagainya kemudian mereka merasa mendapat ridho Allah, memiliki niat baik dan mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena berpenampilan sebagaimana ulama dalam berpakaian, berbicara dan tampilan-tampilan fisiknya. Ulama model demikian adalah ulama yang berada dalam derajat terendah dan bisa masuk dalam cakupan keumuman firman Allah dalam Al Kahfi ayat : 103-104 yang artinya, “Katakanlah : akankah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Dalam pandangan Imam Ghazali figur ulama yang memiliki karakteristik demikian masuk dalam golongan orang-orang yang binasa, yang dungu dan terpedaya sebab tidak ada harapan ia mau bertaubat karena merasa dirinya salah satu orang-orang yang bersikap baik. Padahal ia termasuk golongan yang disabdakan oleh Rasulullah yang artinya, “Dari selain Dajjal, aku lebih mengkhawatirkan kalian dari pada terhadap Dajjal.” “Siapakah dia, wahai Rasulullah,”Tanya seseorang. “Para ulama su’ (jahat),” jawab beliau. Dalam hadits lain beliau bersabda yang artinya, “Siapapun yang mencari ilmu yang semestinya ilmu itu dicari itu untuk menggapai ridho Allah, namun ia  tidak mencarinya kecuali demi memperoleh materi duniawi maka ia tidak akan menemukan aroma surga di hari kiamat.”

Berangkat dari uraian di muka, maka diamnya para ulama terhadap kemaksiatan yang merajalela di masyarakat, kebungkaman mereka terhadap ancaman aqidah yang menghantui ummat Islam, dan absennya mereka dalam perjuangan membela kepentingan Islam dan kaum muslimin adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanah ilmu yang diwariskan nabi kepada mereka. Karena itu masyarakat harus kritis kepada para ulama su’ yang dalam sepak terjangnya tidak mau terikat dengan tuntunan Allah, Rasulullah dan generasi ulama besar masa lampau tetapi malah menghamba kepada kepentingan politik para penguasa dan interest pribadi serta kelompok yang bertentangan dengan kemaslahatan Islam dan ummat Islam. Sebab ulama semacam ini bukan membimbing kaum muslimin untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat tapi mereka justru melapangkan jalan  kepada ummat Islam untuk memasuki pintu-pintu Jahannam. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *