Salah Paham Terhadap Tashawwuf

Sebagian kalangan menilai tashawwuf adalah bid’ah dan faktor yang membuat seorang figur dianggap telah kehilangan kredibilitas. Karenanya mereka akan menyematkan predikat shufi sebagai stigma negatif terhadap seseorang yang dinilai sebagai pengamal tashawwuf. Kemudian mereka menyebutkan ciri-ciri yang membuat seseorang dikategorikan shufi yaitu membaca qunut saat shalat shubuh, membaca shalawat kepada nabi usai adzan, menambahkan kata sayyidina sebelum Muhammad, suka membaca fatihah untuk orang-orang Islam yang telah meninggal dunia, memperbanyak berdzikir, mengeraskan suara tatkala berdzikir, memegang tasbih, memperbanyak shalawat kepada nabi Muhammad, memakai sorban, menghadiri peringatan maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berziarah ke kuburan para sahabat, para nabi dan wali serta berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalangan yang anti tashawwuf ini menilai aktivitas-aktivitas tersebut menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagian diantaranya berpotensi menjerumuskan dalam kemusyrikan. Padahal aktivitas-aktivitas ini berpijak di atas argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sesungguhnya ilmu tashawwuf itu memotifasi seorang muslim untuk menghiasi diri dengan akhlaq terpuji dan menjauhkan diri dari sikap-sikap tercela. Karena ia berdiri di atas dua fondasi utama sumber primer agama Islam yaitu Al Qur’an dan hadits. Al Imam Al Junaid menyatakan bahwa ilmu kita (tashawwuf) dibangun di atas Al Qur’an dan Assunnah. Beliau juga menegaskan bahwa semua jalan untuk mencapai Allah akan tertutup kecuali bagi mereka yang meneladani jejak Rasulullah SAW. Sahl At Tustari mengatakan, “Prinsip-prinsip kami ada tujuh: berpegang teguh dengan Al Qur’an, meneladani sikap Rasulullah SAW, mengkonsumsi makanan halal, tidak menyakiti orang lain, menjauhi kemaksiatan, bertaubat dan memenuhi hak-hak yang telah ditetapkan.” Syaikh Dzunnun Al Mishry mengatakan, “Pokok pembicaran dalam tashawwuf itu ada empat, yaitu cinta kepada Allah Yang Maha Agung, benci kepada yang sedikit (duniawi), mengikuti Al Qur’an, dan khawatir berubah menjadi orang yang celaka, awalnya mukmin berubah akhirnya menjadi kafir. Salah satu indikasi orang yang cinta kepada Allah adalah mengikuti kekasih Allah dalam budi pekerti, tindakan, perintah dan sunnahnya.” Abu Yazid Al Bashthami berkata, “Jika engkau melihat seorang lelaki memiliki beberapa karomah hingga ia mampu terbang melesat di udara, maka janganlah engkau tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya menghadapi perintah dan larangan Allah, menjaga ketentuan yang digariskan Allah dan pelaksanaannya terhadap syari’ah.” Demikianlah beberapa kutipan dari tokoh-tokoh besar shufi yang jika dicermati dengan seksama maka mereka mengambil Al Qur’an dan hadits sebagai sumber dari ilmu dan sikap hidup yang mereka praktekkan sehari-hari. Bukan sebagaimana tuduhan mereka yang tidak mau mempelajari tashawwuf dengan baik lalu tiba-tiba memvonisnya sebagai ilmu yang sesat dan jauh dari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta menilai golongan shufi sebagai kelompok bid’ah yang sesat.

Abul Fadhl Abdullah bin Asshiddiq Al Ghumari Al Hasani dalam Al I’lam bi Annatthashawwuf min Syari’atil Islam menegaskan bahwa tashawwuf tidak lain merupakan salah satu dari tiga pilar agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Dalam dimensi ihsan inilah sesungguhnya tashawwuf diposisikan. Ajaran-ajaran tashawwuf yang menjadi tema kajian para shufi juga bersumber dari Al Qur’an dan hadits baik secara eksplisit maupun implisit. Para sahabat yang tinggal di teras masjid nabawi dahulu atau yang dikenal dengan ahlusshuffah adalah orang-orang yang mempraktekkan sikap hidup shufi. Demikianlah pula generasi setelah mereka yaitu para tabi’in dan seterusnya. Oleh karena itu tidaklah aneh jika para ulama bersikap mendukung dan menguatkan golongan shufi. Al Hafidz Assuyuthi menyatakan bahwa dahulu para ulama fiqh dan ilmu kalam serta tokoh-tokoh besar Islam menjadi ahli tashawwuf, menghadiri majlis-majlis para shufi yang memberikan petuah, memuji para shufi dengan sungguh-sungguh, serta mengutip ungkapan dan isyarat-isyaratnya dalam pelajaran yang disampaikan dan dalam karangan-karangan mereka.

Dari uraian di atas, hendaknya kalangan yang suka menghujat dan mendiskreditkan tashawwuf dan shufi mau meluangkan waktu mereka untuk mempelajari tashawwuf dari literatur-literatur klasik yang sangat mudah diperoleh baik di toko buku atau perpustakaan pondok pesantren atau berdiskusi dengan figur-figur yang menguasai dengan baik seluk beluk tashawwuf dan shufi agar tidak mudah memvonis sesuatu sebagai bid’ah yang sesat sebelum memiliki informasi yang cukup untuk memberikan penilaian. Wallahu A’lam (Sumber : Mafahim, Al I’lam bi Annatthashawwuf min Syari’atil dsb.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *