Posisi Syari’ah Islam

Seorang muslim yang telah dewasa dan berakal apapun posisi, status dan di manapun ia berada terikat untuk melaksanakan syari’ah Islam. Apakah ia pejabat, politisi, artis, olahragawan, karyawan atau apapun profesinya ia terikat untuk menjalankan syari’ah tersebut. Di negara mana pun ia tinggal dan system apapun yang dianut negara tersebut, tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan syari’ah Islam. Ia wajib melaksanakan kewajiban yang ditetapkan syari’ah, wajib meninggakan apapun yang dilarang syari’ah serta diperbolehkan memilih mengerjakan atau tidak sesuatu yang bersifat mubah. Inilah yang disebut dengan konsep hukum taklifi yaitu ketentuan hukum yang mengharuskan seseorang untuk melaksanakan sesuatu, meninggalkannya atau kebolehan memilih mengerjakan atau meninggalkannya, yang kemudian orang yang terkena beban taklif disebut dengan mukallaf. Kewajiban melaksanakan syari’ah Islam secara sempurna tidak bisa gugur kecuali dalam kondisi di mana ia tidak mungkin melakukannya atau kondisi darurat.

Sebagai mukallaf seorang muslim tentu harus meyakini posisi hukum syari’ah berada di atas konstitusi di manapun ia berada. Jika konstitusi atau ketentuan hukum yang berlaku berlawanan dengan syari’ah ia wajib menolak sesuai dengan kapasitasnya, dengan batasan minimal ingkar dengan hati. Sikap ini adalah kewajiban atas setiap muslim berdasarkan surat Al Ahzab ayat : 36 yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” , juga dalam Annisa’ ayat 65 yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Ayat pertama menjelaskan bahwa siapapun yang membangkang dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan memilih ketentuan yang berlawanan dengan keputusan keduanya maka ia berada dalam kesesatan. Ayat kedua menegaskan bahwa keimanan seseorang baru dikategorikan sempurna jika menerima sepenuh hati apa yang telah menjadi keputusan nabi Muhammad. Dari dua ayat ini kita bisa mengetahui bahwa muslim manapun yang tidak mengakui otoritas syari’ah sebagai pedoman hidup yang mengontrol sikap dan perilakunya tidak layak disebut sebagai muslim sejati.

Oleh karena itu seorang muslim sejati tidak akan memposisikan ketentuan hukum apapun di atas syari’ah Islam. Ia tidak akan mengkonsumsi minuman keras meskipun ia hidup di negara yang menghalalkan minuman tersebut. Ia akan menjauhi praktek riba meskipun system riba dilegalkan dalam system ekonomi yang dianut dalam negara di mana ia tinggal. Demikian pula ia tetap harus melaksanakan shalat lima waktu, menutup aurat, berpuasa Ramadhan, mengkonsumsi makanan halal dan melaksanakan kewajiban syari’ah yang lain meskipun menjadi warga negara yang konstitusinya tidak mewajibkan semua itu. Situasi dan kondisi apapun yang dialami seorang muslim tidak boleh dijadikan alasan untuk melepaskan kewajibannya melaksanakan ketentuan agamanya.

Lalu apa yang dimaksud dengan syari’ah Islam? Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Madkhalun lidirasatis Syari’ah Al Islamiyah mendefinisikannya sebagai hukum-hukum yang diundangkan Allah dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah serta dalil-dalil lain seperti ijma’ dan qiyas yang lahir dari Al Qur’an dan Assunnah. Syari’ah Islam diturunkan oleh Allah sebagai ketentuan-ketentuan hukum yang komprehensif dan sempurna serta tidak ada kekurangan karena diturunkan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan masa depan dan menngetahui kemaslahatan sejati untuk manusia. Syari’ah ini juga bersifat global tidak terbatas untuk komunitas, negara dan bangsa tertentu tapi ia berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali. Syari’ah Islam juga berlaku sepanjang masa tidak dibatasi oleh periode tertentu. Tegasnya, syari’ah Islam telah didesain oleh Allah sebagai aturan yang tidak terpengaruh oleh perubahan zaman, tidak akan pernah usang, dan prinsip-prinsip dasarnya bersifat tetap. Karenanya teks-teks syari’ah Islam yang mengandung sifat umum dan elastis sehingga mampu menyikapi setiap problem yang baru, tidak bisa berubah atau diganti.

Karakter syari’ah seperti ini berbeda jauh dengan karakter hukum positif produk manusia yang tidak mungkin mencapai taraf kesempurnaan karena manusia sebagai pihak yang menetapkannya adalah makhluk Allah yang penuh keterbatasan dan kelemahan. Karenanya tidak aneh jika hukum positif ini akan selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan manusia dan sesuai perubahan situasi dan kondisi yang dialaminya. Sejarah telah menjadi saksi bahwa selama lebih dari empat belas abad, syari’ah Islam tidak mengalami perubahan meskipun dunia telah mengalami perubahan besar dalam berbagai aspek dan hukum positif juga telah mengalami pergantian berkali-kali untuk merespons kebutuhan zaman yang terus berkembang. Meskipun syari’ah Islam tidak mengalami perubahan berbeda dengan hukum positif, ternyata prinsip-prinsip hukum yang ditetapkan syari’ah tetap lebih tinggi dari level perkembangan masyarakat manusia, lebih memberikan jaminan untuk menata dan menutupi kebutuhan mereka, lebih sesuai dengan karakter mereka, dan lebih memberikan perlindungan terhadap stabilitas keamanan mereka.

Di samping keunggulan-keunggulan syari’ah di atas, yang perlu diingat oleh semua ummat Islam adalah bahwa implementasi syari’ah Islam dalam kehidupan sehari-hari dan dalam seluruh aspek kehidupan akan memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin di dunia dan akhirat. Karakteristik inilah yang tidak dimiliki oleh hukum positif atau konstitusi produk manusia yang hanya menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteran duniawi yang seringkali janji itu meleset. Karena itu kita semua sebagai ummat Islam harus senantiasa berusaha melaksanakan syari’ah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah agar meraih keselamatan dunia akhirat sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadits dari Malik bin Anas yang artinya, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat sepanjang berpegang teguh dengan dua hal tersebut. Yaitu Kitabullah dan sunnah nabi-Nya.” Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *