Menjawab Tuduhan Terhadap Abuya As Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki

Abu Hasan Asysyadzili mengatakan bahwa sunnatullah yang berlaku untuk para nabi dan wali pada masa awal perjuangan mereka adalah Allah memberi mereka penderitaan dengan diusir dari tempat tinggal mereka dan dituduh melakukan dusta. Namun jika mereka mampu menghadapi semuanya dengan penuh kesabaran maka kemenangan akan berada dalam genggaman mereka. Beliau juga menegaskan bahwa seorang ‘alim tidak sempurna berada dalam maqam ilmu (derajat keilmuan) hingga ia mendapat empat ujian : cibiran musuh, celaan kawan, makian orang-orang bodoh dan kedengkian para ulama. Jika ia bersabar menghadapi ujian ini maka ia akan menjadi figur panutan.

Imam Assuyuthy menyatakan bahwa tidak ada satupun tokoh besar yang hidup dalam suatu era kecuali memiliki musuh dari kalangan rendah. Adam dimusuhi iblis, , Dawud dimusuhi Jalut dan kawan-kawannya, Ibrahim dimusuhi Namrud, Musa dimusuhi Fir’aun, Isa dimusuhi Bukhtanashar dan kelak musuh beliau adalah Dajjal, Nabi kita Muhammad dimusuhi Abu Jahal dan Abu Lahab, Umar bin Khatthab gugur dibunuh, demikian pula Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali. Para imam mujtahid seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari juga tidak luput mengalami penderitaan serupa para nabi dahulu. Sampai Assuyuthy sendiri mengalami hal serupa yang membuatnya berkomentar, “Salah satu nikmat Allah kepadaku adalah Dia memberiku musuh yang menyakitiku dan menjatuhkan reputasiku agar aku bisa meneladani para nabi. Rasulullah sendiri bersabda dalam riwayat Al Hakim pada kitab Al Mustadrak yang artinya, “Manusia yang paling berat mendapat ujian adalah para nabi, lalu para ulama dan selanjutnya para shalihin.”

Berangkat dari uraian di atas maka sangatlah wajar jika guru besar kita Abuya Sayyid Muhammad ‘Alawi Al Maliki semasa hidupnya mengalami banyak ujian berat dan beragam tekanan dari mereka yang dengki dan membenci beliau. Salah satu ujian berat yang harus dilalui beliau adalah tuduhan bahwa beliau menyebarkan ide-ide kemusyrikan, padahal apa yang beliau sampaikan dalam buku-buku beliau adalah pandangan yang beliau kutip dari pandangan para ulama dahulu. Tuduhan menyebarkan kemusyrikan kini muncul lagi disuarakan oleh da’I salafi Ust. Firanda Andirja, MA dalam tayangan televisi Arrodja yang kemudian menyebar luas di media social. Dalam ulasannya Firanda mengutip keterangan yang terdapat dalam kitab Mafahim yang ternyata ia salah besar dalam memahaminya. Dari apa yang ia kutip ia menjelaskan bahwa Abuya berpendapat bahwa Rasulullah diberi hak otonom untuk mengatur alam padahal sesungguhnya jika ia mau membaca dengan cermat  dan tuntas maka ia akan menyadari bahwa kesimpulan yang ia ambil adalah keliru. Karena dalam paragraph sebelumnya dengan lugas Abuya menegaskan keyakinannya bahwa Allah semata pencipta makhluk dan segala tindakannya serta tidak ada siapapun yang secara independen bisa melakukan apapun tanpa izin Allah, berpartisipasi bersama Allah atau taraf yang lebih rendah dari berpartisipasi.

Jika Firanda mau membaca kutipan tulisan Abuya dengan lengkap maka sesungguhnya yang ditulis Abuya jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: “Pengatur alam semesta adalah Allah SWT. Siapa pun  tidak dapat memiliki sesuatu kecuali jika diberi Allah dan diizinkan untuk mengaturnya. Seseorang tidak memiliki kemampuan memberi manfaat, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan untuk dirinya apalagi orang lain kecuali apa yang telah dikehendaki Allah atas izin-Nya. Berarti, memberi manfaat dan bahaya diberi batasan dengan ketentuan ini. Hal-hal di atas bisa dikaitkan dengan makhluk dari aspek sebagai penyebab dan pelaku bukan aspek penciptaan, pembuatan, memberikan pengaruh, sebagai factor, atau pemberi kekuatan. Kaitan ini bersifat majazi bukan kaitan sesungguhnya. Dengan fakta ini, uraian Firanda bahwa Abuya berpendapat nabi diberi hak otonom untuk mengatur alam adalah tuduhan dusta dan menunjukkan keculasannya karena hanya mengutip sebagian keterangan sesuai hawa nafsunya kemudian dijadikan senjata untuk  menyebar tuduhan syirik.

Firanda juga menyebut bahwa pendapat Abuya yang menyatakan nabi mengetahui kondisi ummatnya adalah tindakan syirik, padahal yang disampaikan Abuya ini didasarkan pada sebuah hadits yang beliau sebutkan dalam Mafahim halaman 257-258 dalam menjelaskan kehidupan khusus Nabi Muhammad. Hadits tersebut berasal dari Abdullah bin Mas’ud yang artinya, “Hidupku lebih baik untuk kalian. Apa yang dilakukan oleh kalian akan diturunkan hukum untuk menjelaskannya. Dan wafatku juga lebih baik untuk kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Maka jika aku melihat amal baik maka aku memuji Allah. Dan jika melihat amal buruk aku memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.” Hadits ini dikategorikan shahih oleh banyak para imam pakar hadits. Al Albani yang nota bene dianggap dewa hadits abad ini oleh salafi juga menilai hadits ini mursal shahih. Jadi menuduh Abuya syirik karena mengatakan bahwa nabi mengetahui keadaan ummatnya sama dengan menuduh Rasulullah sendiri dan para imam pakar hadits yang menilainya sebagai shahih telah melakukan tindakan syirik. Al Qur’an sendiri menyatakan bahwa Rasulullah bisa melihat amal perbuatan kita sebagaimana disebutkan dalam At Taubah ayat : 105, yang artinya, “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.”, yang oleh Al Khazin dalam tafsirnya menyatakan bahwa Rasulullah bisa melihat amal perbuatan kita karena memang Allah memperlihatkannya kepada beliau.” (Sumber : Mafahim & Attahdzir minal Ightirar bi maa Jaaa fi Kitabilhiwar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *