Mengenal Sahabat Rasulullah SAW

Sahabat adalah orang yang bertemu Nabi Muhammad, beriman kepada beliau dan wafat dalam kondisi beriman. Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki dalam Al Manhal Al Lathif menyatakan bahwa kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa semua sahabat itu berstatus adil, baik yang senior atau yunior, dan yang terlibat dalam perang antara Ali dan Mu’awiyah atau yang tidak terlibat. Penilaian ini karena berbaik sangka kepada mereka dan memandang jasa-jasa mulia mereka yang tetap mematuhi seluruh perintah Nabi Muhammad sepeninggal beliau, menaklukkan banyak wilayah, menyampaikan Al Qur’an dan hadits, membimbing manusia dan senantiasa konsisten melaksanakan shalat, zakat dan berbagai macam ibadah disertai keberanian, kecakapan, kedermawanan, memprioritaskan orang lain dan akhlak terpuji yang tidak dimiliki oleh ummat manusia sebelum mereka.

Status adil yang disandang sahabat bukan berarti mereka adalah figur ma’shum yang terhindar dari dosa. Tetapi riwayat yang disampaikan mereka itu diterima tanpa perlu bersusah payah meneliti kriteria-keriteria keadilan dan mencari klarifikasi menyangkut keadilan mereka. Kecuali jika terbukti melakukan tindakan yang bisa membuat cacat keadilan, yang alhamdulillah hal ini tidak terbukti. Karena itu kita mempertahankan sikap mereka semasa bersama Rasulullah sampai terbukti terdapat penyelewengan. Kita tidak perlu terpengaruh dengan opini yang disebutkan para pakar sejarah karena opini tersebut tidak valid dan hal yang tidak valid itu harus dinterpretasikan dengan benar.

Status adil para sahabat sendiri langsung disampaikan oleh Allah, sebagaimana kesucian dan pilihan-Nya kepada mereka juga diinformasikan langsung oleh-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di bawah ini :

(1). Al Baqarah : 143 yang artinya, “dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

(2). Ali ‘Imran : 110 yang artinya, “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

(3). Al Fath : 29 yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

(4).  Al Anfal : 64 yang artinya, “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”

(5). Al Fath : 29 yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”

(6). At Taubah : 100 yang artinya, “orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah”

(7). An Naml : 59 yang artinya, “Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” Sufyan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hamba-hamba-Nya adalah para sahabat Nabi Muhammad.

Sedang hadits yang menunjukkan keadilan para sahabat di antaranya adalah sbb :

(1). Dari Abdullah ibnu Mughaffal yang artinya “Bertakwalah kalian kepada Allah menyangkut para sahabatku. Jangan jadikan mereka obyek pelecehan sepeninggal aku. Siapapun yang mencintai mereka maka karena kecintaannya kepadaku, ia cinta kepada mereka. Dan siapapun yang membenci mereka maka karena kebenciannya kepadaku, ia benci mereka. Siapapun yang menyakiti mereka maka ia telah menyakitiku. Dan siapapun yang menyakitiku berarti telah menyakiti Allah. Dan siapapun yang menyakiti Allah maka Allah akan segera menimpakan siksa-Nya.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

(2). Dari Abdullah bin Mas’ud yang artinya, “Sebaik-baik kalian adalah generasiku kemudian generasi berikutnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

(3). Dari Abu Sa’id Al Khudri yang artinya, “Jangan mencacimaki para sahabatku, jangan mencacimaki para sahabatku. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika salah satu dari kalian mendermakan emas sebesar gunung Uhud maka tidak bisa mengalahkan satu mud (6 ons) atau separuh sedekah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

(4). Dari Jabir yang artinya, “Sesungguhnya Allah memilih para sahabatku atas seluruh alam selain para nabi dan rasul” (HR. Al Bazzar)

Di samping dalil dari Al-Qur’an dan hadits sebagaimana di atas, Ibnu Shalah menyatakan bahwa ummat Islam sepakat menilai para sahabat adalah figur-figur yang adil. Baik yang terlibat fitnah atau tidak. Demikian pula para ulama yang konsensus mereka diakui, telah sepakat bahwa para sahabat itu figur yang adil. Seakan-akan Allah memudahkan kesepakatan atas keadilan para sahabat sebab meraka adalah generasi yang mentransfer syari’ah dari nabi kepada generasi kaum muslimin selanjutnya. Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki mengatakan bahwa ijma’ atas keadilan para sahabat disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr, Annawawi dan Imam Haramain.

Berangkat dari uraian di atas, maka siapapun dan dari kelompok manapun yang berani melecehkan para sahabat, sesungguhnya ia adalah orang zindiq sebagaimana pendapat Abu Zur’ah yang berkata, “Jika ada seseorang merendahkan salah satu sahabat Rasulullah SAW maka pastikan bahwa ia itu zindiq (munafik). Karena Rasulullah itu benar, Al Qur’an benar dan apa yang dibawa beliau juga benar. Para sahabatlah yang menyampaikan semua itu kepada kita. Orang-orang yang merendahkan para sahabat ingin mendiskreditkan mereka yang nota bene adalah para saksi kita dengan tujuan membatalkan Al Qur’an dan Assunnah. Karenanya yang layak didiskreditkan sesungguhnya adalah para zindiq yang melecehkan para sahabat tersebut.” Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *