Manfaat-Manfaat Haji

Berkumpulnya jutaan manusia pada musim haji untuk melaksanakan rukun Islam kelima bukanlah bertujuan untuk melaksanakan thawaf dan wukuf di ‘Arafah semata. Thawaf dan wukuf hanyalah sebagian dari tujuan haji. Dalam Al Qur’an Allah menjelaskan sejumlah manfaat besar yang terkandung dalam kata manafi’ yang terdapat dalam surat Al Hajj : 27 yang artinya, “dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat (manafi’) bagi mereka ….”

Kata manafi’ (banyak manfaat) dimana haji dijadikan sebagai jalan untuk menyaksikan dan memperolehnya dan dijadikan sebagai hikmah pertama yang disebutkan Al Qur’an ini bersifat umum, tidak spesifik menunjuk kepada dimensi dan aspek tertentu. Karenanya ia mencakup banyak manfaat diantaranya kesucian jiwa, mengadakan diskusi untuk menetapkan metode ilmu pengetahuan dan kebudayaan, menyatukan suara dalam memusatkan dakwah dan upaya memperlihatkan toleransi Islam dan hukum-hukumnya yang benar, menyiapkan perangkat untuk menenun benang-benang karakteristik Islam menjadi baju tunggal, dan komitmen kuat untuk menjaga karakteristik tersebut agar tidak luntur.

Demikianlah, bentuk manfaat bisa berubah-ubah mengikuti kondisi zaman dan situasi relasi antar manusia. Namun sesungguhnya manfaat paling tepat menyangkut hubungan antar sesama muslim adalah menyatukan suara dan persepsi bersama untuk menetapkan prinsip hidup berdasarkan agama dan keimanan mereka yaitu berpegang teguh dengan tali Allah sesuai firman Allah dalam Ali ‘Imran : ayat 103  yang artinya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”.

Berpegang teguh dengan tali Allah mengandung beberapa konsekuensi.

Pertama, menyingkirkan kepentingan-kepentingan yang didasarkan fanatisme kesukuan, bangsa dan madzhab. Karena kepentingan-kepentingan inilah yang mengakibatkan kaum muslimin bercerai berai dari jalan Allah yang jelas dan menjadikan mereka terpecah dalam berbagai kelompok yang sebagian dimanfaatkan oleh musuh bersama mereka untuk menghadapi kelompok muslim lain hingga akhirnya seluruh kaum muslimin dapat dihancurkan.

Kedua, mengharuskan langkah cepat membersihkan akidah dan praktek yang terjadi di tengah ummat Islam dari unsur syirik dan bid’ah. Karena hal inilah yang  membuat para musuh Islam mengembangkan opini bahwa Islam bukanlah agama tunggal tapi agama yang plural yang berbeda-beda sesuai perbedaan teritorial dan madzhab. Padahal Islam itu tunggal dalam aspek akidah dan praktikal dimana fakta ini bisa diketahui elemen-elemennya dalam Al Qur’an. Ragam ekspresi keagamaan yang kita lihat dalam kelompok-kelompok Islam sesungguhnya  merupakan jejak penyimpangan manusiawi yang timbul sebagai efek dari fanatisme tercela. Tentunya kondisi yang dialami pasien yang mengidap penyakit yang membuatnya mengalami penyimpangan karakter tidak bisa dijadikan sumber akurat untuk mengetahui karakter-karakter tersebut. Oleh karena itu tugas kita adalah mengobati diri kita sendiri dari penyakit tersebut sampai pulih dan sembuh sehingga sikap hidup kita menjadi sumber yang tepat bagi kesucian dan kelayakan Islam sebagaimana dijelaskan dengan terang benderang dalam Al Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus.” (Al Isra’ : 9).

Ketiga, kerja serius dan cepat untuk memperlihatkan tujuan-tujuan Al Qur’an oleh para aktivis dakwah Islam. Hal ini dilakukan dengan menginterpretasikan Al Qur’an dengan tafsir yang mudah dan jelas yang steril dari unsur-unsur israiliyyat, perselisihan madzhab dan aspek-aspek yang membuat orang mengalihkan perhatiannya dari upaya mengetahui petunjuk Al Qur’an yang dengannya akan tampak wajah substansi dan dakwah Islam yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan untuk  menghapus tuduhan-tuduhan negatif para penulis bayaran yang kontradiktif dengan Islam dan keindahan agama ini.

Keempat, Para aktivis dakwah Islam harus menaruh perhatian, percaya diri, mengetahui dengan benar teknik representasi yang relevan dan mengerti posisi negara yang menjadi target dakwah, serta memahami psikologi, ideology, tradisi dan seluruh aspek kehidupan  penduduknya. Jika aktivis dakwah mampu mengaplikasikan semua hal ini maka ia akan menjadi figur terkemuka yang disegani masyarakat.

Kelima, melakukan kajian cepat dan serius dalam upaya mengharmoniskan bidang ekonomi, transaksi-transaksi keuangan dalam komunitas muslim, dan prinsip-prisnsip Islam yang benar  yang wajib menjadi rujukan untuk menghapus praktek riba yang nota bene kejahatan besar yang diperangi Allah dan rasulullah serta pelanggaran yang nyata dan tercela terhadap hukum-hukum Islam.

Keenam, Melakukan kajian cepat untuk menyatukan kekuatan sebagai upaya melindungi eksistensi Islam dan menjaga prinsip-prinsip dasar utama Islam dari pihak-pihak yang berambisi menghancurkan agama ini.

Sungguh melakukan dialog bersama dalam rangka menyiapkan perangkat untuk memperlihatkan manfaat-manfaat besar sebagai konsekuensi dari upaya berpegang teguh dengan tali Allah akan  lebih memberikan manfaat sangat besar kepada kita dan agama kita dari pada menyiapkan perangkat untuk mempelajari konstitusi dan filsafat barat. Karena sebelum kita membangun kehidupan kita di atas dasar yang kokoh dalam setiap individu muslim maka mempelajari konstitusi dan filsafat barat hanya akan mengakibatkan hilangnya spirit dan rasa percaya diri kepada diri kita sendiri.

Demikianlah uraian Abuya Sayyid Muhammad Alawi dalam kitab Labbaika Allahumma Labbaika yang barangkali beliau berharap haji dijadikan momentum untuk membangun keharmonisan dan persatuan ummat Islam bukan sebaliknya. Namun ironisnya kelompok tertentu justru memanfaatkan haji sebagai event untuk menyebarkan paham-paham yang memvonis bid’ah dan syirik terhadap amaliah mayoritas ummat Islam di berbagai belahan dunia lewat buku-buku yang diberikan secara gratis kepada para jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia. Padahal amaliah tersebut memiliki basis argumentasi yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *